Surakarta — Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Fakultas Peternakan, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, mengembangkan inovasi teknologi pengawetan daging melalui Mubico (Multilayer Bio-Coating). Inovasi ini berbasis hidrolisat keratin bulu ayam, kitosan, dan ekstrak black garlic untuk mempertahankan kualitas dan keamanan daging sapi selama penyimpanan, sekaligus memanfaatkan limbah bulu ayam menjadi bahan bernilai tambah.
Penelitian ini diketuai oleh Miftah Nurul Azmi bersama Naila Runna Izzati, Akmal Mazid Abdullah, Jihan Anastasya, dan Diva Aulya Putri Riyanto. Tim terdiri dari empat mahasiswa Program Studi Peternakan dan satu mahasiswa Program Studi Teknik Kimia UNS, di bawah bimbingan Farouq Heidar Barido, S.Pt., Ph.D.
Mubico tidak hanya berfungsi sebagai lapisan pelindung pada permukaan daging. Inovasi ini juga memanfaatkan senyawa bioaktif black garlic yang memiliki aktivitas antioksidan. Selain itu, tim mengembangkan smart sensor visual berbasis antosianin ubi jalar ungu yang dirancang sebagai indikator perubahan pH selama penyimpanan melalui perubahan warna.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh karakteristik daging sapi yang kaya nutrien sehingga mudah mengalami kerusakan meskipun disimpan pada suhu dingin. Kerusakan tersebut ditandai dengan meningkatnya oksidasi, pertumbuhan mikroorganisme, serta terbentuknya senyawa hasil degradasi selama penyimpanan. Melalui Mubico, tim memanfaatkan limbah bulu ayam sebagai sumber keratin yang dikombinasikan dengan kitosan dan ekstrak black garlic untuk membentuk lapisan pelindung yang bersifat biodegradable.
“Bulu ayam memiliki kandungan keratin yang tinggi sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pembentuk bio-coating. Kami mencoba mengombinasikannya dengan kitosan dan black garlic agar lapisan yang dihasilkan tidak hanya menjadi pelindung, tetapi juga memiliki aktivitas antioksidan dan antibakteri,” ungkap Akmal Mazid Abdullah, anggota tim.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa kombinasi hidrolisat keratin dan black garlic dalam Mubico berpotensi memberikan perlindungan terhadap oksidasi dan pertumbuhan mikroorganisme selama penyimpanan daging. Potensi tersebut terlihat dari aktivitas antioksidan yang lebih tinggi pada perlakuan KA serta perkembangan mikroorganisme yang lebih rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi kedua bahan tersebut berpotensi membantu mempertahankan mutu daging selama penyimpanan.
Tidak berhenti pada pengembangan bio-coating, tim juga mengembangkan prototipe smart sensor visual berbasis tepung ubi jalar ungu. Lembaran sensor ini memanfaatkan antosianin yang peka terhadap perubahan pH, sehingga dirancang untuk memberikan indikasi visual terhadap perubahan kondisi daging selama penyimpanan. Pada kondisi awal, sensor berwarna ungu dan dapat berubah menjadi warna biru hingga hijau ketika kondisi daging semakin basa akibat terbentuknya senyawa volatil selama proses pembusukan.
Tim berharap inovasi ini dapat terus disempurnakan sehingga penerapannya sebagai alternatif pengawetan daging semakin aplikatif dan berkelanjutan. Miftah Nurul Azmi menyampaikan bahwa pemanfaatan limbah bulu ayam menjadi salah satu nilai yang ingin dibawa melalui penelitian ini.
“Kami berharap Mubico tidak hanya menjadi inovasi untuk membantu mempertahankan kualitas daging, tetapi juga dapat memberikan nilai tambah pada limbah bulu ayam. Pengembangan ini masih dapat terus disempurnakan sehingga nantinya dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi bidang pangan dan masyarakat,” ujarnya.
Dengan pengembangan berkelanjutan, Mubico diharapkan menjadi alternatif pengawetan daging yang aplikatif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. (Red/Fakultas Peternakan UNS)